Baju Bauba”, Pakai Elit Laki-Laki Piaman Masa Lalu

Oleh: Labai Korok

“Era saisuak” dimana transportasi masih didominasi “kabau ba padati”, para penunggangnya dipastikan memakai tutup kepala dengan deta (Dipakai Uda Wagub), baju bauba, sirawa galembong, alas kaki tarompa japang.

Itulah model pakaian elit laki-laki Piaman yang hari ini sudah terlupakan, andaikan ada ditemukan saat ini, laki-laki hanya pakai sirawa galembong, berarti beliau sedang ikut acara kesenian tari, kalau ada yang berpenutup kepalan pakai deta, berarti sedang ada acara serimonial kepala daerah menunggu tamu kehormatan.

Namun yang namanya “baju bauba” tidak akan pernah ditemukan lagi diaktifkan laki-laki Piaman, dimana pun nagarinya, “baju bauba” sudah hilang ditelan masa.

Dengan kondisi hilangnya “baju bauba” tersebut, Penulis sewaktu Anggota Dewan Padang Pariaman pernah membuat khusus baju tersebut, Alhamdulillah “baju bauba” itu Penulis buat seperti model baju taluak balong, satu lagi untuk mamak Penulis, MZ Datuak Bunsu Rangkayo Rajo Mangkuto dalam bentuk jas, khas “baju bauba ala Piaman”.

“Baju bauba” tersebut pernah Penulis pakai pada acara kunjungan kerja dewan ke pulau dewata, Bali, tempatnya di Kota Denpasar, disini Penulis pakai “baju bauba” tersebut secara resmi.

Rekan-rekan anggota dewan yang ikut kunker sama dengan Penulis heran juga, mengapa “baju bauba” ini ada, mereka akui baju yang Penulis pakai itu sangat bagus, sama kelasnya dengan baju yang dipakai resmi oleh anggota dewan lain.

Saat pertemuan dengan Pemerintah Daerah Denpasar, Penulis memperkenalkan “baju bauba” tersebut kepesertaan yang hadir, bahwa urang Piaman, Minangkabau ada baju elitnya yaitu “baju bauba”.

Seking tergodanga orang Bali melihat “baju bauba” Penulis, sempat baju itu dimintak sama pemandu wisata (siblie) orang Bali, tukaran baju Kita, kebetulan pemandu tersebut juga memakai pakaian adat Bali.

Namun karena “baju bauba” Penulis memang dibuat satu, Penulis tidak bisa menukarkan, tapi Penulis berjanji akan membuat lagi baju itu di Piaman, lalu akan dikasihkan ke siblie tersebut.

Secara pribadi Penulis tidak segan memakai baju itu diacara resmi, acara kenegaraan, acara DPRD karena memang baju itu berbentuk bagus, sepintas dilihat baju tersebut seperti baju dasar kulit yang mengkilat, kecoklatan, indah bentuknnya.

Perlu Penulis terangkat bahwa “baju bauba” tersebut sangat populer dizaman dahulu, sosok yang memakai baju tersebut adalah laki-laki kaya yang selalu menaiki sepeda reli buatan Belanda. Andaikan ada yang memakai “baju bauba” tersebut sudah tergolong borjuisnya urang Piaman atau berpusako laweh.

Saat ini “baju bauba” itu tidak adalagi, Penulis pun hanya punya satu, itupun hanya bisa dijadikan pajangan kenang-kenangan semasa aktif diDPRD, karena dibuat tahun 2011, sekarang sudah tahun 2024, berarti umur baju itu sudah 13 tahun ada, namun baju itu masih layak dipakai.

Penulis berharap kepada pihak-pihak pemangku kepentingan yang cinta budaya Piaman, Minang agar bisa kembali memproduksi “baju bauba” tersebut sebagai bentuk melestarikan budaya Minang.

BERITA LAINYA

POST LAINYA

Website ini diterbitkan oleh sumbarinfo.com | © 2021- 2022