Ada Apa Dengan Daerah Minang (Piaman)?, Pembunuhan, Pemerkosaan Selalu Terjadi

Oleh: Labai Korok

Semua orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap daerah, kampung halaman dipastikan akan ada pertanyaan itu, “Ada Apa Dengan Daerah Minang (Piaman)?, Pembunuhan, Pemerkosaan Selalu Terjadi” akhir-akhir ini paska covid-19.

Apakah ini karena masjid, surau, mushola di nagari, desa, korong, dusun selalu sepi sholat berjamaah atau syiar Islam tidak terdengar meriah dibanding hiburan.

Apakah ini karena angku datuak ditengah nagari selalu bersengketa dengan kemenakan, sehingga kepedulian mengayomi kaum tidak ada kecuali kalau angku datuak dapat dana uwak seloo atau jua pusako.

Apakah ini karena Kepala Daerah atau para pejabatnya sibuk memikirkan pembangunan-pembangunan sehingga lupa bahwa program mencetak generasi adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah itu lupa atau memang tidak ada.

Apakah ini karena masyarakat Minangkabau khusus daerah Piaman dalam kondisi ekonomi susah, sehingga semua kejadian dilampiaskan sesuai dengan hawa nafsu saja.

Apakah ini karena tidak adanya ketegasan pemerintah menutup faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pemerkosaan dan pembunuhan seperti membiarkan hiburan malam penuh kemaksiatan.

Apakah ini karena ulama (ustad, tuanku) sudah sibuk mengurus kehidupan pribadi disebabkan tidak ada kepastian hidup dalam dakwah, sudah cinta dunia.

Apakah ini karena adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah tidak dipahami lagi oleh remaja, anak, orang dewasa, mereka terpengaruh oleh mediasosial yang isinya pornografi dan kekerasan

Apakah ini karena anggota dewan, payung masyarakat sudah menjadikan kehidupan ini mengedepankan materialisme dalam kehidupan masyarakat, semua diukur dengan uang.

Apakah ini karena tidak adanya aturan atau budaya sosial baik ditengah masyarakat, semua bebas melakukan apa saja tapa batas, sehingga pemerkosaan dan pembunuhan sudah jadi bagian dari kehidupan.

Pertanyaan yang muncul dari tulisan diatas, perlu Kita jawab bersama oleh pemangku kepentingan Minangkabau, terkhusus urang Piaman disaat hari ini terjadi lagi kasus pembunuh berantai dilakukan oleh Wanda.

Kita kutuk kejadian ini, Ketika Siska Oktavia Rusdi, akrab disapa Cika, dinyatakan hilang pada Januari 2024, tak ada satu pun dari pihak keluarga yang mencurigai sosok lelaki yang selalu berada paling dekat dengannya. Saat lebaran dimana Siska hilang laki-laki ini saat lebaran masih berkunjung dan memberi THR pada adik korban.

Satria Juhanda alias Wanda, pria yang selama ini ia panggil kekasih. Kini, enam bulan setelah kepergiannya yang misterius, kebenaran yang terungkap justru menghantam keluarga lebih kejam dari dugaan siapa pun. Cika bukan hanya korban pembunuhan. Beliau adalah korban dari cinta yang salah arah, korban dari lelaki yang pernah ia percaya, bahkan turut melapor ke polisi bersama orang tuanya saat ia dinyatakan hilang.

Satria Juhanda, yang dikenal dengan nama panggilan Wanda, bukan hanya membunuh Cika. Wanda juga membunuh dua perempuan lainnya: Adek Gustiana (24) dan Septia Adinda (25). Salah satu dari mereka, Septia, menjadi korban mutilasi.

Potongan tubuhnya ditemukan hanyut di aliran sungai yang membelah Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang, pada Minggu, 15 Juni 2025.

Kasus yang terjadi saat ini, mari Kita sama-sama ninik mamak, ulama, cadiak pandai, kepala daerah, DPRD bangun komitmen, janga ada lagi pembunuhan, pemerkosaan tejadi diranah Minang ini, terjadi didaerah yang menganut prinsip adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah.

BERITA LAINYA

POST LAINYA

Website ini diterbitkan oleh sumbarinfo.com | © 2021- 2022