Oleh: Labai Korok
Paska kasus pembunuhan sadis, beruntun di beberapa daerah belum Kita lihat sikap jelas dari Kepala Daerah baik tingkat Provinsi Sumatera Barat maupun sikap kongrit dari Kepala Daerah Kabupaten dan Kota Se-Sumbar.
Kesemua pejabat tersebut sepertinya tak percaya dengan kejadian tersebut atau membisu, menganggap kasus pembunuh dan bunuh diri seperti itu sudah jadi kebiasaannya orang Sumbar sekarang, yang akan datang. Mereka, para Kepala Daerah itulah yang tahu kenapa sikap tak jelas.
Namun kasus viral tersebut tidak berhenti pada pembunuhan mutilasi berantai, sekarang masuk babab baru, dimana-mana terjadi kasus bunuh diri yang terjadi pada waktu yang berdekatan seperti kasus seorang dokter spesialis loncat dari lantai tertinggi hotel mewah di Kota Padang, sampai hari ini belum jelas penyebab dokter ganteng ini bunuh diri.
Berapa hari berikutnya seorang perempuan muda berinisial RY (23) ditemukan meninggal dunia diduga akibat gantung diri dirumahnya di Perumahan Wahana I Blok J No. 12, Rimbo Tarok, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Minggu sore (29/06/25) sekira pukul 17.30 WIB.
Peristiwa tragis itu pertama kali diketahui oleh seorang tetangga, Efrita (52), sekitar pukul 17.30 WIB. Ia melihat anak korban yang masih balita menangis di halaman rumah. Saat menghampiri, Efrita melihat pintu rumah dalam keadaan terbuka. Ketika masuk kedalam, ia menemukan korban telah tergantung dipintu kamar bagian belakang dekat dapur.
Belum selesai polisi mengungkap motif gantung diri di Koto Tanggah, Warga Lubuk Minturun, Koto Tangah, Kota Padang, kembali digemparkan dengan penemuan mayat laki-laki tanpa identitas yang ditemukan tersangkut di antara bebatuan aliran Sungai Lubuk Minturun, Senin (30/6/2025).
Kondisi jasad sudah membusuk saat ditemukan warga sekitar pukul 17.00 WIB. Kejadian itu langsung dilaporkan ke aparat kepolisian dan dilanjutkan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Kelas A Padang.
Tidak itu saja dimedia medsos juga viral suami memukul istri dengan palu sehingga harus dirujuk kerumah sakit otak DR H M Matta Bukittinggi karena mengalami luka parah dialami pasca kekerasan rumah tangga atau KDRT.
Uraian kasus seperti diatas terlihat, terjadi terus menerus, keadaan tidak ada jedahnya, tidak ada ruang mebatasi, kesemua kasus pembunuhan, bunuh diri, kekerasan dan lainnya berentet panjang seolah Sumatra Barat ini sudah ada budaya seperti itu. Kacau.
Penulis secara pribadi prihatin dan sedih dengan kasus-kasus seperti itu, nyawa dan kehidupan tidak lagi menjadi hal mahal atau berarti yang harus dilindungi secara benar.
Usulan dan saran kepada Kepala Daerah yang hari ini berkuasa, sudah saatnya ambi kebijakan yang mendasar mengantisipasi kasus bunuh diri, pembunuhan dan kekerasan lain ini agar tidak terjadi lagi. Sikapnya tentu harus ada kepedulian melalu kebijakan, program kongrit dan terukur ditengah masyarakat.
Sekarang sudah saatnya menganggap kasus bunuh diri, membunuh dan kekerasan seperti keadaan kasus pandemi Covid 19, dimana semua program, kegiatan, kebijakan anggaran daerah diarahkan kesana yaitu antisipasi jangan adalah kasus pembunuhan, bunuh diri dan kekerasan terjadi diranah Minang ini.
Kepala Daerah jangan sibuk membuat konten seolah dekat dengan masyarakat, ternyata hadir ditengah masyarakat hanya kelompok ASN saja, kelompok Pemerintah yang dapat SPPD saja yang ada, tapi masyarakat yang hari ini rentan memiliki masalah tidak dibatukan atau dihadirkan.
Pemerintah jangan sibuk dengan program pengajian diri sendiri tapi di tengah masyarakat tidak ada program tersebut atau tidak ada kebijakan jelas dalam surat panduan resmi kepala daerah dimana mulai dari Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten dan Kota, turunannya membuat instruksi lakukan pengajian rutin mingguan, bulann disetiap RT/RW, dusun, jorong, nagari diadakan dilapau, dilapangan, dimasjid, dan lainnya.
Sehingga pengajian yang dibuat pemerintah bukan untuk ASN atau aparatur negara saja, mengajak masyarakat sampa dibawah sehingga nilai agama hidup ditengah masyarakat.
Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota buat program kepedulian kepada masyarakat yang menghidupkan ekonomi masyarakat sehingga penyebab pembunuhan atau kekerasan dirumah tangga disebabkan faktor ekonomi tidak ada lagi.
Barang tentu semua harus serius dilakukan, salah satu keseriusan itu Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten dan kota perlu membuat tim-tim (seperti penangan Covid 19) memantau keadaan masyarakat dibawah, tim ini menyisir masyarakat miskin, masyarakat rentan lalu beri bantuan agar penyebab bunuh diri dan membunuh tidak adalagi.