PADANG, SUMBARINFO.COM — Setiap manusia tentu pernah melakukan kesalahan. Tidak ada seorang pun yang luput dari kekhilafan, baik dalam perkataan, perbuatan maupun dalam mengambil keputusan.
Namun, ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, kita sering kali langsung memberikan penilaian. Padahal, di balik sebuah kesalahan bisa terdapat sebab yang berbeda-beda. Ada yang terjadi karena ketidaktahuan, karena khilaf, akibat permusuhan, karena pengaruh orang lain, bahkan ada yang dilakukan dengan sengaja.
Karena itu, sebelum memberikan vonis kepada seseorang, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu sebab di balik kesalahan tersebut.
- Karena Kebodohan atau Ketidaktahuan
Kesalahan pertama bisa terjadi karena seseorang tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu salah.
Ketidaktahuan bukan selalu berarti seseorang tidak berpendidikan. Bisa saja ia belum mendapatkan informasi yang benar, belum memahami aturan, atau belum mengetahui akibat dari perbuatannya.
Dalam kondisi seperti ini, yang lebih tepat dilakukan adalah memberikan nasihat dan pemahaman, bukan semata-mata mencela.
Allah SWT berfirman:
«“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)»
Ayat ini mengajarkan pentingnya bertanya dan mencari ilmu ketika seseorang belum mengetahui sesuatu.
Kesalahan karena ketidaktahuan dapat diperbaiki dengan ilmu.
- Karena Khilaf atau Lupa
Manusia juga bisa melakukan kesalahan karena lupa, lalai, atau kehilangan kendali sesaat. Inilah yang disebut sebagai kekhilafan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa umatnya mendapatkan keringanan atas kesalahan yang dilakukan karena lupa atau tidak sengaja.
Dalam hadis disebutkan:
«“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena kekeliruan, lupa, dan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka.”
(HR. Ibnu Majah)»
Namun, bukan berarti setiap kesalahan boleh dianggap sepele. Jika kesalahan tersebut merugikan orang lain, tetap diperlukan tanggung jawab, meminta maaf dan berusaha memperbaikinya.
Kesalahan karena khilaf membutuhkan kesadaran dan perbaikan.
- Lantaran Permusuhan
Kesalahan juga bisa lahir karena adanya rasa benci, dendam atau permusuhan terhadap seseorang.
Ketika hati dipenuhi kebencian, seseorang bisa kehilangan objektivitas. Orang yang dibenci seakan selalu salah, sementara kesalahan orang yang disukai justru mudah dimaafkan.
Islam mengingatkan agar kebencian tidak membuat seseorang berlaku tidak adil.
Allah SWT berfirman:
«“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)»
Ayat ini merupakan peringatan yang sangat kuat. Perbedaan, konflik atau permusuhan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan kezaliman.
Kesalahan yang lahir dari permusuhan perlu diselesaikan dengan keadilan, tabayun dan pengendalian diri.
- Lantaran Disuruh Orang
Ada pula orang yang melakukan kesalahan karena terpengaruh atau diperintah oleh orang lain.
Tekanan lingkungan, ajakan teman, kepentingan kelompok atau perintah seseorang tidak otomatis membuat sebuah perbuatan yang salah menjadi benar.
Allah SWT berfirman:
«“Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)»
Artinya, seseorang tetap memiliki tanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya. Mengikuti perintah orang lain bukan alasan untuk membenarkan perbuatan yang melanggar kebenaran.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menerima perintah, ajakan maupun informasi dari orang lain.
Kesalahan karena pengaruh orang lain membutuhkan keberanian untuk berkata tidak terhadap keburukan.
- Memang Disengaja
Yang paling berat adalah kesalahan yang dilakukan dengan kesadaran dan kesengajaan, setelah mengetahui bahwa perbuatan tersebut salah tetapi tetap memilih untuk melakukannya.
Dalam kondisi seperti ini, diperlukan pertobatan yang sungguh-sungguh dan kemauan untuk memperbaiki akibat dari kesalahan tersebut.
Allah SWT berfirman:
«“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa: 110)»
Ayat ini sekaligus memberikan harapan. Sebesar apa pun kesalahan seseorang, pintu ampunan Allah SWT tetap terbuka bagi orang yang benar-benar bertobat.
Taubat bukan hanya mengucapkan istighfar, tetapi juga menyesali perbuatan, meninggalkannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, maka hak tersebut juga harus dikembalikan atau diselesaikan.
Jangan Cepat Menghakimi
Lima sebab kesalahan tersebut mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua kesalahan memiliki latar belakang yang sama.
Ada kesalahan yang harus dijawab dengan ilmu. Ada yang membutuhkan nasihat. Ada yang harus diselesaikan dengan tabayun. Ada yang memerlukan keberanian menolak pengaruh buruk. Dan ada pula kesalahan yang menuntut pertobatan serta pertanggungjawaban.
Karena itu, jangan mudah memberikan cap buruk kepada seseorang hanya berdasarkan satu kesalahan yang terlihat.
Kita boleh menilai perbuatannya salah, tetapi jangan terburu-buru merasa paling tahu tentang isi hati dan niat pelakunya.
Rasulullah SAW bersabda:
«“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Kesalahan orang lain hendaknya menjadi pelajaran bagi kita, bukan menjadi kesempatan untuk mempermalukan dan menjatuhkannya.
Sebab, hari ini mungkin kita sedang melihat kesalahan orang lain. Tetapi bukan tidak mungkin, suatu hari nanti kita sendiri yang membutuhkan maaf, nasihat dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Renungan
Jangan hanya bertanya, “Apa kesalahannya?”
Tetapi tanyakan pula:
“Mengapa ia melakukan kesalahan itu?”
Dari sana kita belajar membedakan antara orang yang tidak tahu, orang yang khilaf, orang yang dipengaruhi, orang yang dikuasai kebencian, dan orang yang memang sengaja melakukan kesalahan.
Memahami bukan berarti membenarkan kesalahan.
Memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman.
Dan menegakkan kebenaran tidak harus dilakukan dengan kebencian.
Itulah pentingnya ilmu, keadilan, tabayun dan kasih sayang dalam menyikapi kesalahan manusia.
Cahaya Ilmu