Oleh: Labai Korok
Pada tanggal 28 April 2012, Penulis, Kamal Guci, Uda Fadli Zon melakukan diskusi di Bentara Budaya Yogyakarta dengan tema “Kaba dari Ranah yang dihadiri oleh tokoh Budaya Minang yang ada disini.
Kita yang hadir dalam diskusi tersebut sudah mendapatkan keprihatinan tentang robohnya rumah gadang yang digerus oleh masuknya budaya global, itu nyata dilukis oleh Kamal Guci.
Saat itu kaba dari kampung ini sangat nyata adanya bahwa runtuhnya rumah gadang Minangkabau sudah masuk rusak stadium tinggi yang hadir harus turun tangan untuk melakukan perbaikan.
Menurut Penulis yaitu pelukis Kamal Guci terbilang satu-satunya seniman Indonesia asal Minangkabau yang punya kegelisahan batin sama dengan tokoh ranah dan perantau Minang dalam menyikapi kekalahan telak budaya Minang yang disosoh oleh budaya asing.
Saat Genta Budaya Yogyakarta tersebut lewat karyanya, Kamal Guci mencoba melawan gerak globalisasi yang berprinsip hanya yang kuat yang berhak hidup sementara yang kalah harus menjalani kemusnahan dengan sendirinya.
“Kegelisahan Kamal Guci yang memilih hidup di Minangkabau juga kegelisahan masyarakat Minang di perantauan dalam menyikapi budayanya yang kian tergusur oleh “peradaban baru” yang dikemas dalan isu global.
Saat menurut Penulis, masyarakat Minang, pejabat dan tokoh-tokoh hadir dalam sikap, yaitu retrospeksi menyikapi keadaan runtuhnya budaya Minangkabau.
Retrospeksi adalah tindakan melihat kembali ke masa lalu untuk meninjau, menguji, atau menganalisis peristiwa, pengalaman, atau keputusan yang telah terjadi. Ini melibatkan refleksi, evaluasi, dan pembelajaran dari masa lalu untuk dapat memahami dan meningkatkan tindakan di masa depan.
Penulis Kamal Guci telah lama menghadirkan narasi-narasi akan adanya gerusan sang waktu yang serta merta telah merubah peradaban dan budaya, serta memudarkan norma masyarakat. Kamal Guci melukiskan alam sebagai refleksi sosial agar kita kuasa untuk kembali meredefinisi perubahan kultural, sehingga terbentuk keseimbangan dalam alam pikir, batin dan tindakan sehari-hari.
Saat ini retrospeksi itu perlu dijadikan pemikiran bagi Kepala Daerah, pejabat, ninik mamak, ulama, bundo kanduang dan masyarakat Minang secara keseluruhan agar diimplementasikan salah satunya adalah contoh sederhana yang dilakukan oleh Uda Wagub Sumbar, Vasko.
Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar) Vasko Ruseimy, menunjukkan kebanggaannya terhadap arsitektur tradisional Minangkabau kepada Timothy Ronald, seorang pengusaha muda yang dikenal luas di media sosial sebagai triliuner muda dan dijuluki Raja Crypto Indonesia”.
Momen tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram @vaskoruseimy.
Dalam video itu, terlihat atap rumah dinas Wakil Gubernur yang telah diganti dengan arsitektur khas Minangkabau: atap gonjong.
Sikap dan jalan tindakan dari retrospeksi Kita dengan ikut serta kembali membudayakan arsitektur rumah gadang Minangkabau seperti yang sudah dicontohkan oleh Uda Wagub Vasko, sejalan dengan keprihatinan Kamal Guci dalam untaian pameran lukisan yang dilakukan dibeberapa propinsi di Indonesia.