Belajar Untuk Gagal

oleh: David Rikardo M.Pd


Kita tidak perna menjadi orang gagal hingga kita menyerah (Richard Nixon)


Apa istimewanya jika belajar hanya untuk gagal?
Bukankah kegagalan adalah bentuk dari ketidakberhasilan dalam mencapai suatu hal?
kemudian apa pentingnya jika hal itu perlu untuk kita pelajari?


Saya melihat fenomena kegagalan ini sering terabaikan dalam segala aspek, kegagalan seringkali di anggap sebuah mazhab negatif dari sebuah proses, seakan-akan kegagalan adalah proses gelap dan haram jika dilalui.


Dewasa ini kita harus lebih terbuka lagi dalam melihat dan memahami kehidupan secara utuh tidak hanya memandang dan memprioritaskan suatu keadaan yang indah-indah saja, sementara kita lengah dan abai dalam memandang suatu peristiwa yang memiliki peran penting dalam menuju suatu harapan yang dituju, ia adalah proses dari gagal itu sendiri.


Pengetahuan seringkali nyaman dengan hidangan-hidangan yang memanjakan lidah saja namun seringkali lupa akan dampak dan akibatnya bagi kesehatan mental. Keberhasilan adalah sebuah harga mati yang harus dicapai dalam sebuah proses pembelajaran, sementara kegagalan hanyalah ketidakberasilan dalam merealisasikan tujuan tersebut, dan tidak pantas untuk disyukuri, seperti itulah kira-kira penafsiran liar yang berserakan.


“Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda” sekiranya hanya masih menjadi kalimat indah dan penguat saja, belum mampu menempatkan proses dari gagal tersebut menjadi sebuah langkah kewajaran yang harus dilewati. Sehingga masih menimbulkan stigma malu, tidak percaya diri bagi insan yang merasakannya, seringkali dari efek tersebut lebih sering menumbuhkan rasa negatif pada mental.


Namun kali ini saya ingin menghidangkan santapan kegagalan itu sendiri ditengah-tengah kita semua. Agar kita tidak menjadikan kegagalan sebagai mata pisau yang akan melukai diri kita sendiri, malahan sebaliknya ia harus menjadi proses pengasahan agar pisau itu terus menajam, hingga tidak ada yang mampu menadinginya.


Cara berfikir yang berbeda dalam menghadapi permasalahan yang sama akan menimbulkan hasil yang berbeda pula, Cara berpikir dalam memandang suatu hal akan sangat mempengaruhi kita dalam merespon kejadian ataupun peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Bagaimanapun kita harus menjadikan kegagalan bukan menjadi hambatan yang menyakitkan namun menjadikan “kegagalan menjadi tantangan yang menyenangkan” ini adalah PR bagi kita semua.


Menjadikan kegagalan sebagai sebuah kenormalan dalam proses pembelajaran. Cara berpikir seperti itu tentu harus dilatih dan ditumbuhkan secara nyata melalui pembiasaan dan merubah cara pandang, sehingga kegagagalan adalah keberhasilan yang tertunda itu tidak hanya menjadi wacana dan himbauan semata saja.


Berfokus terlalu berlebih pada hasil menjadikan kita takut dalam menghadapai kegagalan itu sendiri, sementara melatih diri untuk gagal adalah proses alamiah yang perlu dilewati oleh manusia dalam mempelajari banyak hal dalam kehidupan ini.

Bukankah hakikat dari manusia itu selalu berawal dari ketidaktahuan. Jadi untuk apa kita merasa canggung atau takut jika berada pada fase tersebut. Malahan sebaliknya jika kita terlalu berfokus pada keberhasilan akan menjadikan diri kita takut untuk gagal, yang akan menghasilkan kenyamanan dalam melakukan hal yang kita kuasai saja, sementara, Penekanan berlebihan terhadap tujuan kinerja adalah suatu isyarat bahaya. (carlos s dweck).


Secara teori kita memahami betul bahwa proses menuju sukses itu haruslah melewati fase yang namanya gagal itu sendiri, bahkan hampir semua orang mengetahui bahwa Thomas alfa Edison memerlukan ribuan kali kegagalan dalam menuju keberhasilannya menemukan bola lampu yang kita nikmati saat ini, namun permasalahannya adalah ketika kita memahami kegagalan itu adalah bagian dari proses, tetapi kenapa begitu sulit rasanya mental dan perasaan kita menerima kegagalan tersebut?


Keluarga, lingkungan dan tempat pendidikan harusnya terlibat penuh dalam merealisasikan hal tersebut. Paradigma dari seluruh unsur tersebut sangat berperan penting dalam menjadikan kegagalan sebagai proses dalam pengasahan, bukan dijauhi, dikecilkan atau bahkan lebih keras lagi diasingkan secara psikis dari kehidupan.


Hampir semua orang akan menerima dengan baik jika dia dianggap berhasil, tapi hanya sebahagian kecil dari mereka yang berani bangkit dari proses kegegalan itu sendiri, karena cara berpikir sangat menentukan penempatan hati dalam menerima sebuah realita, jika penerimaan dan pemahamanya sudah salah dalam menempatkan hal tersebut pasti hasilnya akan jauh lebih buruk lagi.


“Nak, aku ingin kamu menjadi orang yang tangguh, mampu bangkit dari segala benturan kehidupan yang ada, gagal dalam mengerjakan tugas itu biasa Nak, gagal dalam menggapai impian yang kamu mau itu lumrah Nak, terluka ketika disakiti itu hal yang wajar Nak. Percayalah Ibu akan tetap menjadi Ibu mu yang akan selalu menyayangimu, menjadi guru yang akan menemani, mengajari, mendampingimu selama dari proses gagal itu. Gagal lah sebanyakpun yang kamu mau asal kamu tidak menyerah.


Cara Pandang memahami kegagalan ini adalah sebuah pendekaatan seni yang perlu dan harus kita pelajari dan tumbuhkan, semakin sering kegagalan itu dilalui maka semakin dalam pemahaman itu dipelajari, saya pikir sampai disini hampir dari semua kita menyetujui dan meyakininya, namun tugas kita saat ini adalah bagaimana menjadikan subjek dari yang mengalami gagal itu agar tetap terus berjuang dan terus mencoba. Tanpa merasa putus asa karena jika sampai menyerah akan perlu waktu menumbuh yang baru lagi. Dan Sepertinya seni gagal ini perlu kita pelajari dan pahami secara baik. Karena kita semua harus melewati gagal, merasa gagal, menjadi gagal, adalah hal lumrah nan wajar jika dilalui. Kita ucapkan selamat bagi kamu yang gagal namun tidak untuk menyerah.

BERITA LAINYA

POST LAINYA

Website ini diterbitkan oleh sumbarinfo.com | © 2021- 2022