Oleh: Darman Shiddiq
Hidup di dunia ibarat sebuah pelayaran panjang. Kita adalah penumpangnya, dunia adalah tempat persinggahan, sedangkan tujuan akhirnya adalah akhirat.
Tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama perjalanan ini berlangsung. Karena itu, orang yang bijak bukanlah yang hanya sibuk memperindah sampannya, tetapi yang mempersiapkan sampan agar mampu melewati luasnya lautan kehidupan hingga sampai kepada tujuan yang diridhai Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
«“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(QS. Al-Baqarah: 197)»
Dalam perjalanan menuju akhirat, setidaknya ada lima hal yang perlu kita persiapkan.
- Perkuat Sampan
Sampan adalah ibarat iman dan ketakwaan. Semakin kuat iman seseorang, semakin kokoh pula dirinya menghadapi gelombang kehidupan.
Gelombang itu bisa berupa kesulitan, ujian, godaan, kesenangan, harta, jabatan, bahkan pujian manusia. Jika iman rapuh, seseorang mudah terombang-ambing.
Karena itu, perkuatlah sampan dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)»
- Tambal Mana yang Bolong
Sampan yang bolong tidak akan mampu bertahan lama di tengah lautan. Begitu pula hati manusia. Dosa dan kemaksiatan dapat menjadi “lubang” yang mengancam perjalanan menuju akhirat.
Maka jangan biarkan kesalahan terus menumpuk. Segeralah bertaubat, memperbaiki diri dan meminta ampun kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.
Jangan malu untuk kembali kepada Allah. Selama masih diberi kesempatan hidup, pintu taubat masih terbuka.
- Peringan Beban
Dalam perjalanan yang jauh, beban yang terlalu berat akan menyulitkan perjalanan. Begitu pula kehidupan menuju akhirat.
Kurangilah beban yang tidak perlu: dendam, iri hati, kesombongan, kebencian, pertengkaran dan keterikatan berlebihan kepada dunia.
Belajarlah memaafkan. Belajarlah melepaskan. Jangan membawa terlalu banyak beban hati dalam perjalanan yang singkat ini.
Allah SWT mengingatkan:
«“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
(QS. Al-Hadid: 20)»
Dunia bukan tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat kita menanam, sedangkan akhirat adalah tempat kita memanen.
- Perbanyak Perbekalan
Seorang pelaut tidak akan berangkat tanpa membawa bekal. Begitu pula seorang Muslim yang menempuh perjalanan menuju akhirat.
Perbanyaklah amal saleh: sedekah, membantu orang lain, berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, berkata baik, menuntut ilmu, bekerja dengan amanah dan memberikan manfaat kepada sesama.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Maka selama masih diberi waktu, jangan berhenti mengumpulkan bekal.
- Segala Pekerjaan dengan Ikhlas
Perjalanan menuju akhirat bukan hanya tentang banyaknya pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga tentang niat di balik pekerjaan tersebut.
Pekerjaan yang terlihat kecil bisa menjadi besar di sisi Allah apabila dilakukan dengan ikhlas. Sebaliknya, amal yang terlihat besar dapat kehilangan nilainya apabila dilakukan demi pujian manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
«“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Maka bekerja, membantu, memimpin, berdagang, mendidik, melayani masyarakat, bersedekah maupun beribadah, hendaknya diniatkan karena Allah SWT.
Penutup: Jangan Sampai Sampan Karam Sebelum Tiba
Kita tidak pernah tahu kapan perjalanan ini berakhir. Yang pasti, setiap hari kita semakin dekat kepada tujuan.
Maka perkuat sampan dengan iman, tambal lubang dengan taubat, ringankan beban dengan meninggalkan dosa dan dendam, perbanyak perbekalan dengan amal saleh, serta luruskan niat dalam setiap pekerjaan.
Sebab perjalanan menuju akhirat adalah perjalanan yang jauh, tetapi usia kita sangat singkat.
Semoga ketika waktunya tiba, kita bukan termasuk orang yang kehabisan bekal, melainkan orang yang dengan tenang berkata:
“Ya Allah, aku telah berusaha menempuh perjalanan ini. Terimalah amalanku dan sampaikanlah aku kepada rahmat-Mu.”
Wallahu a’lam bish-shawab.