Oleh: Darman Shiddiq
Akal merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Dengan akal, manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, mengambil pelajaran, serta menentukan sikap dalam menjalani kehidupan.
Al-Qur’an banyak memberikan perhatian kepada orang-orang yang menggunakan akalnya. Allah SWT berfirman:
«“Sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal.”
(QS. Az-Zumar: 9)»
Ayat tersebut mengingatkan bahwa akal bukan sekadar kemampuan berpikir, tetapi harus digunakan untuk mengambil pelajaran dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Cinta kepada Ilmu
Salah satu tanda orang yang berakal adalah mencintai ilmu. Ia tidak merasa cukup dengan pengetahuan yang dimilikinya, tetapi terus belajar dan mencari kebenaran.
Allah SWT berfirman:
«“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)»
Rasulullah SAW juga bersabda:
«“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)»
Maka, mencintai ilmu bukan hanya tanda kecerdasan, tetapi juga merupakan jalan menuju kemuliaan di sisi Allah SWT.
- Tidak Berubah karena Pujian dan Celaan
Orang yang berakal tidak mudah berubah hanya karena mendengar pujian ataupun celaan. Ketika dipuji, ia tidak menjadi sombong. Ketika dicela, ia tidak kehilangan arah.
Allah SWT mengingatkan:
«“Janganlah kamu berjalan di bumi dengan sombong.”
(QS. Al-Isra’: 37)»
Pujian hendaknya diterima dengan rasa syukur, sedangkan celaan hendaknya disikapi dengan kesabaran dan introspeksi. Jika sebuah kritikan benar, orang yang berakal mengambil pelajaran darinya. Jika tidak benar, ia tidak perlu membalas dengan keburukan.
Rasulullah SAW bersabda:
«“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam pergulatan, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
- Bagus Jawabannya
Orang yang berakal tidak tergesa-gesa dalam berbicara. Ia mempertimbangkan perkataannya agar tidak menyakiti orang lain dan tidak menyampaikan sesuatu yang belum diketahuinya.
Allah SWT berfirman:
«“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isra’: 36)»
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya menjaga lisan:
«“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Karena itu, bagusnya jawaban bukan hanya terletak pada banyaknya kata, tetapi pada kebenaran, manfaat, kesopanan, dan ketepatan dalam menyampaikannya.
- Banyak Benarnya
Orang yang berakal berusaha agar perkataan dan perbuatannya lebih banyak berada dalam kebenaran. Ia tidak mempertahankan kesalahan hanya karena gengsi.
Allah SWT berfirman:
«“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)»
Orang yang berakal juga menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Ketika melakukan kesalahan, ia segera memperbaiki diri dan mengambil pelajaran.
Akal yang Dihiasi Ilmu dan Akhlak
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa orang yang berakal bukan hanya orang yang pandai berpikir atau berbicara. Akal yang sehat seharusnya melahirkan kecintaan kepada ilmu, kerendahan hati, kemampuan mengendalikan diri, perkataan yang baik, dan kecenderungan kepada kebenaran.
Allah SWT berfirman:
«“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)»
Ayat ini mengajarkan bahwa orang yang berakal hendaknya menggunakan pikirannya untuk merenungi kebesaran Allah SWT dan mengambil hikmah dari kehidupan.
Penutup
Empat tanda tersebut menjadi bahan renungan bagi kita semua: mencintai ilmu, tidak mudah terpengaruh oleh pujian dan celaan, mampu memberikan jawaban yang baik, serta berusaha memperbanyak kebenaran dalam perkataan dan perbuatan.
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, akal yang sehat, hati yang rendah hati, lisan yang terjaga, serta kekuatan untuk selalu berada di jalan kebenaran.
Tindasan Pena — Rubrik Cahaya Ilmu
Belajar, merenung, dan memperbaiki diri.